Bangkit dan Serukan Peringatan Literasi Media!

Dicky Rinaldo – Pemimpin Besar Jihad Media!

Televisi adalah media informasi paling populer di Indonesia. Tak ayal jika banyak pihak yang memanfaatkan media televisi sebagai alat bagi kepentingannya. Kekuatan audio visual yang dimiliki televisi mampu memberikan fantasi bagi pemirsa televisi dirumah. Menomorduakan realitas hingga cenderung membodohi pemirsa sesungguhnya tidak sejalan dengan norma yang ada.

Berdasarkan perintah yang menguasainya, media mungkin bisa memilih untuk menjadi baik, atau secara sadar mengarahkan informasi yang justru menyesatkan. Sadar maupun tidak, efek dari tindakan itu berpengaruh pada anggota keluarga,  keluarga yang merupakan organisasi terkecil namun paling berpengaruh dalam tumbuh kembang manusia.

Keluarga adalah tempat dimana manusia bertumbuh, disebuah ruang keluarga sering kita temukan terdapat sebuah pesawat televisi sebagai sarana hiburan keluarga, yang disisi lain sebenarnya merupakan senjata pembunuh mental yang secara massal bisa membunuh bahkan sambil tersenyum.

Tua-muda, besar-kecil, lulusan Sekolah Dasar hingga profesor sekalipun bisa larut dalam emosi senang hingga berderai air mata dalam melihat tayangan televisi dirumah. Begitulah, tanpa pandang bulu, televisi berhasil mengikat perhatian orang untuk terus menerus menyimak konten-kontennya yang bervariasi. Tak pelak, banyak yang akhirnya kecanduan menonton televisi tanpa memperhatikan dampak negatif televisi pada kehidupan manusia.

Bahkan sejarah pun pernah mencatat rezim orde baru mengekang media dan menjadikannya alat propaganda. Karena itu, salah satu agenda reformasi 1998 adalah membebaskannya. Harapannya, kebebasan yang diperoleh media dapat digunakan untuk melayani kepentingan publik. Namun kenyataannya, kebebasan disalahgunakan. Hal ini antara lain ditunjukkan melalui peningkatan jumlah tayangan yang tak punya relevansi dan tak berguna bagi publik salah satunya bernama gosip yang menurut rilis pusat studi media dan komunikasi Remotivi, perkembangan kemunculan tayangan gosip dalam sepekan di televisi dari tahun 1997 hingga 2014 semakin hari semakin meningkat peredarannya.

 

Channel 1997 2014
RCTI 2 % 16 %
Indosiar 1 % 15 %
SCTV 1 % 12 %
ANTV 0 % 3 %
MNC TV 0 % 3 %

Perkembangan kemunculan tayangan gosip dalam sepekan di televisi dari tahun 1997 hingga 2014

 

Bagaimana Pemirsa Hidup dan Bertumbuh

Dahulunya pemirsa televisi hanyalah satu sel kecil yang tak kasat mata.  Sel ini membelah, memperbanyak diri dan menjadi segumpal daging. Lalu pemirsa berubah menjadi sesosok manusia yang dapat melihat, mendengar dan merasakan. Pemirsa tumbuh dan berkembang menjadi semakin dewasa dan bersamaan dengan itu pemirsa juga belajar dengan beradaptasi dengan lingkungannya. Terutama keluarga, lingkungan pertamanya yang membentuk pola pikir para pemirsa.


Kemudian semakin sering menyaksikan siaran televisi dan menerima informasi gosip yang secara alam bawah sadar tersugesti value-value tertentu yang secara terus-menerus terepetisi melalui tayangan televisi, baik itu acara gosip maupun pesan komersial yang membuat manusia menjadi konsumtif bahkan mengesampingkan kualitas dari produk itu sendiri, terbalut dengan teknik pencitraan yang menjual mimpi dan harapan.

Kehadiran infotainment yang berisi gosip juga menjadi warna baru yang sebenarnya mengancam keluarga Indonesia. Infotainment adalah gabungan dari dua frasa : informasi dan entertainmen, yang artinya kira-kira informasi tentang dunia hiburan. Sejak lahirnya era kebebasan pers, infotainment semakin menjadi liar.

Menjual mimpi menjadi bahan utama infotanment, kehidupan selebritis yang diidolakan banyak orang nampaknya menjadi sebuah peluang usaha baru yang dibaca para pengusaha pada medio 1997-an. Terlebih diawal era reformasi dahulu perizinan sangat dimudahkan, bahkan pers tidak butuh surat izin, banyak para pengusaha yang merekrut para wartawan hiburan. Mereka mendirikan tabloid khusus kehidupan kaum selebritis, yang mengungkap secara lengkap dari mulai kehidupannya sehari-hari bahkan live event prosesi kelahiran anak seorang selebriti pun kini menjadi sajian utama dari stasiun televisi.

Infotainmen menjadikan selebriti sebagai sebuah sajian utama, selayaknya orang terkenal banyak yang pengkut para penggemar, jejak langkah mereka diikuti secara intens mulai dari kehidupan yang baik hingga yang diluar kebiasaan.

Semisal trend pakaian, seorang pedagang di tanah abang pernah berujar bahwa model hijab artis Shireen, Fatin, Dewi Sandra maupun hijab model Inneke Koesherawati mereka pakai sehari-hari juga menjadi trend dan banyak dicari pembeli, dampaknya berpengaruh terhadap trend di industri fashion. Jika pakaian saja mampu mempengaruhi pola perilaku masyarakat hingga mampu merubah trend di industri, gaya hidup selebritisnya tentu mampu membuat para pemirsa juga terhanyut. Lalu bagaimana jika perilaku negatiflah yang tersaji dalam sebuah tayangan televisi?

Tahukah anda, bagaimana pemirsa berpikir dan mengambil keputusan? Secara alam bawah sadar pemirsa menyerap berbagai informasi yang dia terima hingga terekam didalam alam bawah sadar mereka.

Manusia memiliki gaya belajarnya masing – masing, dengan melihat (visual), mendengar (auditory) dan merasakan (kinestetik) yang semuanya terkandung dalam media televisi maka tidak heran jika tayangan televisi mampu mempengaruhi pemirsanya.

Pemirsa melihat, mendegar dan merasakan dan disempurnakan dengan repetisi yang dilakukan stasiun televisi secara terus menerus, repetisi ini adalah hal yang vital, sebab secara alam bawah sadar manusia sangat tersugesti oleh sesuatu hal yang diulang-ulang. Repetisi adalah cara yang dilakukan para pakar alam bawah sadar dalam mensugesti seseorang, “tidur.. tidur .. tidur.. semakin terlelap…” demikian teknik yang kerap dilakukan seorang ahli hypnosis di TV saat mempengaruhi obyek hypnosis.  Yang kemudian di lanjutkan ke dalam sebuah proses filterisasi, sehingga akan menjadi sebuah acuan, keyakinan dan nilai bahkan identitas seseorang dalam mengambil sebuah tindakan atau keputusan. Bila informasi yang di simpan adalah informasi yang negatif, maka tindakan atau keputusan yang akan di ambil akan menghasilkan keputusan negatif dan sebaliknya .

Gaya belajar visual adalah adalah gaya belajar yang memiliki kecenderungan lebih senang dengan melihat apa yang sedang dipelajari. Visualisasi akan membantu siswa yang memiliki gaya belajar ini untuk lebih mudah memahami ide informasi yang disajikan dalam bentuk penjelasan berupa tampilan obyek yang diteliti. Ini berarti visual merupakan belajar dengan mengamati dan menggambarkan, sehingga visualisasi bermakna belajar harus menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca dan menggunakan media atau alat peraga (DePorter & Henarcki, 2004:113).

Penelitian menyebutkan tubuh kita bisa memainkan pernaan besar dalam kekuatan pikiran positif. Teori umum berspekulasi, berpose umum membuka tangan merangsang aliran darah ke kaki dan tangan dan bisa meningkatkan kadar testoteron, yaitu kadar yang mampu meningkatkan hormon kepercayaan diri juga menekan kadar hormon stress, kortisol.

Dengan kata lain kekuatan berpostur positif bisa menuntun pada pikiran positif yang bisa menyebabkan kita mempertimbangkan bagaimana kita berprilaku saat sangat dibutuhkan. Demikian juga saat kita berostur negatif semisal berpose murung, alam bawah sadar kita juga akan memproses kita menjadi pribadi yang murung. Lalu bagaimana jika semua hal itu terjadi di layar televisi? Sungguh merupakan sebuah proses pencucian otak secara massal. Ayo pintar Nonton TV!

Penelitian juga menunjukkan, satu senyuman bisa memicu banjir endorfin dalam otak anda setara dengan makan ratusan batang cokelat atau saat diberikan segenggam uang tunai. Melihat orang lain tersenyum saja sering memicu anda untuk ikut tersenyum juga yang bisa menyebabkan turunnya tingkat hormon stress dan menurunkan tekanan darah Anda. Riset menunjukkan orang yang sering tersenyum cenderung lebih sehat, cenderung menghasilkan banyak uang punya hubungan yang lebih baik, bahkan terlihat lebih kompeten oleh orang lain.  Lalu bagaimana jika anda tonton bukan sebuah senyuman, tapi sebuah kebencian? Ayo pintar Nonton TV!

Misal, Karena terlalu seringnya fenomena perceraian di kalangan selebritis membuat Infotainment sering menayangkan tayangan perceraian, Mengulang Kata CERAI dan secara terus menerus di ulang-ulang sepanjang hari disetiap harinya. Saat ini dari pagi hingga malam hari ada tayangan Infotainment bukan?

Mensuggesti kata CERAI dalam setiap tayangannya, kata CERAI yang sering diULANG dalam tayangan infotainment berhasil mesuggesti sebuah kata yang berbahaya bagi perkembangan negara ini.

Dari segi auditori (pendengaran), menurut riset oleh ilmuwan syaraf, Daniel Bowling not nada dalam kunci mayor mirip dengan nada yang pada pidato yang menarik, sementara not nada dalam minor lebih mirip dengan pidato yang muram. Ini mungkin alasan mengapa kita cenderung mengaitkan lagu kunci  nada mayor dengan suasana semangat dan bergembira, sementara lagu dengan kunci nada minor dikaitkan dengan suasana sedih atau muram.

Selain itu, penelitian terbaru menemukan mendengarkan musik bertempo cepat berkunci nada mayor bisa segera memperbaiki suasana hati kita, dan anda bisa meningkatkan sikap positif jangka panjang dengan mendengarkan  musik gembira selama dua minggu.

Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga adalah benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku. Ayo pintar Nonton TV!

Memang tidak semua perceraian mengakibatkan mentalitas anak terutama bagi orang tua yang mampu mengkondisikannya, namun kenyataannya tidak semua pemirsa mampu memahami dan bertindak bijak hingga tidak mengorbankan anaknya. Karena keluarga adalah elemen pendidikan yang paling nyata, tepat dan amat besar. Keluarga adalah salah satu elemen pokok pembangunan entitas-entitas pendidikan, menciptakan proses naturalisasi sosial, membentuk kepribadian-kepribadian serta memberi berbagai kebiasaan baik pada anak-anak yang akan terus bertahan lama. Maka jika keluarga hancur tidak tertutup kemungkinan anak menjadi korban dan berpengaruh terhadap mentalitasnya, tayangan infotainment yang kerap mengangkat isu perceraian dikalangan selebritis berkontribusi terhadap kerusakan mental.

Jika kata cerai saja mampu menggerogoti kehidupan manusia, bagaimana dengan kata gratis, murah atau diskon yang mensugesti untuk membuat manusia menjadi konsumtif? Tidak heran mengapa grup besar seperti CT Corp berambisi untuk menguasai sektor konsumer dengan memanfaatkan media televisi guna mempromosikan Carrefour sebagai pilihan tempat belanja terbaik dan potongan diskon besar-besaran jika berbelanja dengan kartu kredit dari Bank Mega, begitu juga dengan ngopi  di Coffee Bean, menikmati eskrim di Baskin Robbin atau berakhir pekan ria dengan berekreasi di Trans Studio. Ayo pintar Nonton TV!

 

PROMO PROGAM ACARA dan PROGRAM ACARA, Mana yang lebih berbahaya?

Program Televisi dan Promo program tayangan televisi sesungguhnya memiliki konten yang sama, namun promo program televisi cenderung lebih berbahaya, karena dalam waktu 15-30 detik sang pembuat promo diituntut untuk menjual sebuah program agar tertarik ditonton oleh target audience. Dengan keterbatasan waktu itu akhirnya dipilihlah adegan adegan yang kira-kira ‘menjual’, dan promo program televisi tersebut akan diulang-ulang (direpetisi) penayangannya. Jika misalnya Sebuah program acara sinetron yang berkisah mengenai bahaya Narkoba, tentu dalam promonya akan ‘dijual’ juga narkoba. Sehingga kata Narkoba akan diulang ulang dalam promonya. Dan promo ini menjadi racun tersendiri karena singkat, padat dan menjual meski dalam waktu yang terbatas. Dan parahnya value akan dengan mudah terserap. Pikiran Negatif mengaktifkan kulit otak depan kanan yang terletak di dekat pusat stress, saat otak melepaskan hormon stress seperti adrenalin itu memengaaruhi sistem kekebalan dan membuat kita mudah terserang penyakit. Dengan kata lain,pikiran positif bagus untuk kesehatan kita.

Berdasarkan penelitan, Kata NEGATIIVE seperti tidak, jangan, dilarang dan lain-lain pun tidak diterima oleh ALAM Bawah Sadar, misal dalam sebuah tayangan iklan layanan masyarakat yang berisi anjuran untuk menjaga kebersihan akan kurang efektif jika tertulis “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN” karena value yang tersampaikan adalah BUANG sampah sembarangan. Alam bawah sadar kita cenderung menolak kata-kata negatif.

Effektifitas Iklan Komersial

Tayangan komersial berikut ini memang disengaja agar membuat anda tertarik untuk membeli, namun percayalah, tidak semua yang anda ingingkan itu anda butuhkan. Seorang crative director dituntut untuk mampu menyapaikan value-value tertentu yang sengaja dijual dalam sebuah brand.  Sebenarnya sebuah brand meskipun secara sepintas merupakan produk yang sama, namun nyatanya mereka memeiliki target market yang berbeda dan spesifik. Dibuktikan melalui value-value yang diungkap dalam tayangan komersial mereka terutama promo. Semisal, Shampoo CLEAR yang menargetkan penderita ketombe dan SUNSILK yang ditujukan untuk Wanita pemilik rambut panjang.

Dalam marketing MIX terdapat  teknik 5P yang sering dipakai dalam melakukan pemasaran, yaitu Better Price, Better Product, Better Place, Better People dan Better Promotion. Kaitannya dalam hal promosi adalah ketika semisal dalam sebuah produk air mineral terpampang seorang dokter yang mengatkan secara ilmiah keunggulan sebuah produk, tentu kata-kata sang dokter akan lebih dipercaya audiens dibanding jika dikatakan oleh seorang sinetron. Atau dalam sebuah iklan komersial juga sering ditemukan seorang model yang dikemas seolah olah nampak seperti dokter. Tentu alam bawah sadar pemisa cenderung akan melihat secara visual, apalagi ditambah dengan suara berat nan bijak yang lebih membuat pemirsa yakin akan integritas sang model berkostum dokter.
Belum lagi untuk produk dengan target market pria, sering kali dgunakan model wanita guna menjadi brand ambasador suatu produk.

Brand Ambassador seorang wanita cantik sekelas Dian Sastro ditambah senyumnya cocok sekali menyajikan produk dengan target market pria. Ini lah yang disebut better people dalam marketing mix.

Kekuatan berpikir positif dan dampak pikiran negatif, tak ada yang kemampuannya jadi lebih baik atau buruk dari sebelumnya, kami hanya membuat mereka berpikir begitu. Besarnya kesuksesan ditentukan apa yang terjadi dalam pikiran, bukan di luar sana. Jadi, percayalah pada diri anda dan pada apa yang anda lakukan. Ayo pintar Nonton TV!

The Future of Media is Inspirative and Positive Media.  Itsn’t a joke… Let’s go to the FUTURE!

Until one day we can say..

‘The Future is Now, I’m Glad to be part of it..!”

 

Dicky Rinaldo
CEO & Founder at Amazing Broadcast, Inc.
Pemimpin Besar Jihad Media !

‪#‎JihadMedia‬ ‪#‎AmazingBroadcast‬ ‪#‎FTAIPTV‬ #DVBT2